5 Writing Camp PCPK




Kumpul sama teman-teman yang suka menulis dan membaca, belajar menulis sama-sama di alam terbuka, melakukan hal-hal seru yang tak terlupakan, asyik kan, ya? 

Kamu bisa mengalami semua itu di Writing Camp PCPK, asalkan kamu maksimal berusia 16 tahun. Writing Camp akan dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu tanggal 28-29 Desember 2013. Lokasi acara Writing Camp di Bumi Bambini Children Center, Jl Ki Hajar Dewantara No 6X, Tangerang 15413. Peta lokasi bila lihat di sini

Bagaimana cara menjadi peserta?

Syarat Peserta
  1. Bersedia datang ke lokasi writing camp dengan biaya sendiri.
  2. Mendaftar via sms dengan format Nama_Alamat_usia ke Kak Pita 085691062407
  3. Mengisi formulir peserta di sini
  4. Membayar  biaya Writing Camp sebesar Rp 499.000 ke rekening BCA Cabang Depok Asri nomor 765 024 3531 a.n Galuh Kencono Wulan
  5. Bukti transfer dapat difoto dan dikirim melalui Whatsapp/BBM ke Kak Pita 085691062407/Pin BB 287AE87E
  6. Terbatas hanya untuk 20 peserta (20 pendaftar pertama yang mendaftar melalui sms dan membayar biaya writing camp)
  7. Pendaftaran dan pembayaran paling lambat 22 Desember 2013

Manfaat yang akan diperoleh
  1. Acara ini akan menumbuhkan motivasi dalam diri anak (peserta) untuk membaca dan menulis
  2. Peserta akan mendapatkan pengetahuan tentang dasar-dasar menulis fiksi
  3. Peserta akan dibimbing untuk menulis dengan tema tertentu pada saat Writing Camp. 
  4. Setelah Writing Camp, peserta akan dibimbing terus melalui grup khusus di Facebook agar dapat menyelesaikan tulisannya. Bimbingan menulis dilakukan selama 100 hari setelah Writing Camp via grup khusus Facebook. Orangtua dapat mendaftarkan akun Facebooknya juga untuk memantau proses menulis anak.
  5. Karya peserta terbaik dan memenuhi syarat akan dibukukan dalam PCPK edisi spesial seperti PCPK Spesial My Lovely Pet, PCPK My Spooky Moment.


Info lengkap hubungi
Kak Pita 085691062407/ Pin BB 287AE87E
Kak Tammy 081959952166/ Pin BB 2A4D90E2



Read more

9 Sorry, My Friend





Ya ampun! Bersahabat tapi, kok, berantem melulu, sih? Cuma gara-gara Kelly ingin menjadi sahabat Avelinn dan Vina, persahabatan Beautiful Friendship jadi berantakan. Karena ternyata, Kelly itu ... pembohong! Waduh!

Kira-kira Kelly bakalan sadar enggak, ya? Apakah persahabatan Avelinn dan Vina bisa diselamatkan setelah diacak-acak oleh Kelly? Yuk, baca kisah persahabatan yang seru ini!
Read more

0 The Little Queen




Wuih, asyik, Dinda mendapatkan beasiswa kursus drama selama sebulan di Jakarta Theater School! Tinggal di asrama bersama murid-murid lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seru banget pastinya.

Bersama tiga teman barunya, Dinda langsung membentuk geng The Little Queen. Mereka mengalami berbagai kejadian seru dan berkesan. Dari nekad membuat pesta kejutan di tengah malam untuk teman yang berulang tahun, menyelidiki anak yang membuat Miss Lala marah, sampai menjadi pemeran inti dalam kisah Putri Cinderella di saat perpisahan.

Ssst ... ada yang cemburu pada Dinda yang sukses memainkan peran Cinderella, lho. Siapa dia, ya? Baca saja kisah lengkapnya di novel keren ini!
Read more

1 Fantastic Island


“Kalau kamu enggak ganti, awas saja!” ancam Rio lagi.

“Iya, Bawel, aku lupa bentuk cangkang itu! Jadi bagaimana cara mengganti cangkangnya?!” balas Silvia.

Aduuuh ... Silvia pusing menghadapi Rio, teman barunya. Gara-gara cangkang Rio tak sengaja Silvia hilangkan, Silvia harus mencari cangkang yang sama sampai ke Shelfish Paradise. Dan, tak berhasil pula!

Tapi, Silvia justru menemukan sebuah cangkang bercahaya biru yang luar biasa, yang membuatnya bisa berbicara dengan hewan. Wow!

Tapi, Silvia juga bersyukur, karena ada hikmah besar di balik perseteruan cangkang itu. Wah, apa, ya? Penasaran, kan? Ikuti saja petualangan seru Silvia ini!
Read more

5 My Cake Shop



Asyiknya bisa punya patisserie bakery sendiri. Apalagi, kalau sampai menduduki posisi pertama di Patisserie Bakery Top Chart. Wuah, keren! Alvina yang tadinya cuma orang biasa pun mendadak terkenal di dunia!

Uniknya, Alvina bersaing secara sehat dengan Sevil, pemilik bakery Sevilsier. Meskipun mereka saling mengalahkan di dunia patisserie, tetapi mereka tetap saling mendukung, lho. Mantap, ya?

Bagaimana sepak terjang Alvina si Patissier Cilik? Ikuti kisahnya di buku yang bikin lapar ini, yuk!
Read more

2 Zupa and the Magic Spoon


Zupa adalah anak berusia dua belas tahun. Ia adalah anak yang sangat ingin tahu sesuatu hal! Suatu hari, temanya disekolah, Ayne, mengatakan sesuatu tentang magic spoon, sendok ajaib yang bisa membuat si pemilik memasak apa saja! Termasuk secret recipe, yaitu makanan terenak yang belum pernah dicicipi seorang pun karena tidak ada yang bisa menemukan dan memasak resep itu!

Waaah, Zupa sangat ingin memasak  secret recipe yang konon hanya bisa dimasak menggunakan magic spoon! Apakah kira-kira Zupa dan Ayne bisa menemukan magic spoon dan memasak secret recipe?[]

Read more

8 Dicari! Cerita My Spooky Moment




Halo @PCPKlover
Kamu pernah mengalami saat-saat yang menakutkan atau menyeramkan?
Jika iya, kamu bisa menulisnya untuk antologi PCPK
 My Spooky Moment

Ketentuannya:
1. Peserta berusia maksimal 14 tahun (belum genap 15 tahun)
2. Tema “My Spooky Moment” saat-saat yang menyeramkan, boleh pengalaman sendiri, keluarga, teman atau orang lain yang kamu kenal
3. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak atau elektronik, 
serta tidak sedang diikutsertakan dalam lomba menulis
4. Panjang naskah 5-7 halaman diketik pada HVS ukuran A4;
spasi 1,5; font Times New Roman; dan, ukuran font 12 point
5. Melampirkan biodata diri lengkap dan foto terbaru (foto dengan resolusi besar),
beserta nama orang tua
6. Naskah dikirimkan ke SUREL: redaksi@noura.mizancom selambat-lambatnya 31 Mei 2013
dengan subject surel "My Spooky Moment
7. Redaksi akan memilih 10 karya terbaik untuk dibukukan
8. Penulis yang karyanya terpilih dan dibukukan akan mendapat honor yang layak dan 1 buku My Spooky Moment
9. Tulisan terpilih akan diumumkan di Fans Page Penulis Cilik Punya Karya dan Twitter @PCPKlover pada 30 Juni 2013

Read more

9 Tessia: "Dalam sebulan saya bisa membaca sampai 10 buku!"

Halo, Teman-Teman. Kali ini PCPK akan ngobrol-ngobrol singkat bareng Tessia. Nama panjang Tessia adalah Evangelina Tessia Pricilla. Tessia lahir pada tanggal 11 April 1998. Dengar-dengar, nanti Tessia mau diwawancara sama salah satu stasiun televisi yang sudah terkenal, lho. Itu semua gara-gara ia menulis buku! Hebat, ya, gara-gara menulis buku seseorang bisa menjadi orang yang bermanfaat dan menjadi terkenal. Kalau kamu ingin seperti Tessia, silakan baca obrolan bermanfaat di bawah ini, ya! ^__^


Halo, Tessia! Apakabar?
Puji Tuhan Sehat nih, Kak. :))

Sedang sibuk apa nih sekarang?
Mempersiapkan diri buat menghadapi UN kelas 9 ><

Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu kok suka menulis?
Karena dengan menulis saya bisa membawa orang lain masuk ke dalam dunia imajinasi saya, Kak.

Sejak kapan kamu suka menulis?
Sejak kelas 2 SD, Kak.

Kamu belajar menulis dari mana?
Otodidak, Kak. Soalnya, keluarga saya enggak ada yang suka menulis.

Kamu pernah merasa bosan dalam menulis? Kalau pernah, cara kamu mengatasinya bagaimana?
Pernah dong pastinya... biasanya sih buat ngusir rasa bosan, saya membaca novel sambil mendengarkan musik....

Sampai sekarang kamu sudah menerbitkan berapa buku? Judulnya apa saja?
Lima buku. Judulnya Alat Musik Misterius ( CCPK, 2011), The Pianist Girl (PCPK, 2011), The Soccer Girl (KCPK, 2o12), Adventure in Story Land (PCPK, 2012), Idolaku (PCPK, 2012)

Kamu suka tema buku yang seperti apa? Kenapa?
Semua saya suka, Kak. Asalkan ceritanya itu engak ngebosenin alias seru dan mengandung pesan yang baik.

Penulis favorit kamu?
J.K. Rowling

Dalam satu bulan, kamu membaca berapa buku? Dan buku bacaan apa yang paling membuat kamu berkesan?
Tergantung, Kak... kadang-kadang dalam sebulan saya bisa membaca sampai 10 buku! Tapi, karena sekarang saya lagi sibuk UN jadi untuk sementara ini saya hanya membaca buku pelajaran saja, Kak. Hehehe. Kalau buku yang paling berkesan, sih, My Idiot Brother karya Agnes Davonar. Itu adalah buku pertama yang berhasil bikin aku nangis, Kak....

Untuk membuat satu buku, biasanya kamu memakan waktu berapa lama?
Kalau lagi mood bisa hanya satu minggu. Tapi, kalau sekarang sih, bisa sampai 6 bulan O_o

Dari mana kamu mendapatkan ide menulis?
Dari mana aja, Kak. Bisa dari film atau novel. Tapi, tetap tidak meniru juga.

Apa yang kamu dapat dari menulis?
Saya bisa berkenalan dengan teman-teman penulis cilik lainnya, bisa mendapatkan uang saku tambahan, bisa membanggakan orangtua, dikenal banyak orang, mendapatkan banyak pengalaman. Wah, pokoknya banyak,deh.

Kamu kan sekarang sudah menjadi penulis cilik, minta tips-tips menulisnya, dong.
Jangan menyerah, terus berusaha, dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan. Karena, suatu kerja keras tanpa pertolongan Tuhan itu sia-sia, begitu juga sebaliknya. Jika kita terus bekerja keras tapi tidak dibarengi dengan doa tentu kerja keras kita akan sia-sia. ^^

Kira-kira, sampai kapan kamu akan menulis?
Jika Tuhan mengijinkan, saya akan menulis sampai dewasa nanti, Kak
Read more

1 Me Vs My Twin



Sinopsis

Kembar, tapi, kok, tidak mirip, sih? Waduh ... malah musuhan, lagi! Hm ... ada apa, ya, antara Meyda dan Mayra si kembar tidak identik itu? Meyda sampai tega membuatkan cupcake untuk Mayra, padahal Meyda tahu betul bahwa Mayra mengidap alergi. Tentu saja Mayra jadi gatal-gatal sampai berkoreng! Duh, kasihan, ya?

Meyda dan Mayra adalah bintang-bintang cilik yang bersinar. Namun beda warnanya. Dapatkah mereka kembali bersatu untuk memberikan pendaran cahaya yang lebih besar? Baca kisah lengkapnya, yuk!
Read more

0 Idolaku (Edisi Khusus)



Sinopsis

Idola memang bisa siapa saja. Tidak peduli tua atau muda, terkenal atau tidak, laki-laki atau perempuan. Yang penting seorang idola bisa memotivasi kita untuk semakin semangat belajar, menjadi seseorang yang lebih baik, dan berguna untuk banyak orang.

Nah, di seri kali ini, beberapa teman kalian akan bercerita mengenai idola mereka. Ada yang mengidolakan teman sekolahnya, orang tua mereka, pahlawan nasional, sampai artis terkenal. Wiiih.. keren, ya! Penasaran siapa saja idola teman-teman kalian? Yuk, baca kisah di buku ini!
Read more

1 Magical Girls


Sinopsis
Saat berangkat ke sekolah, Amira menemukan sebuah kalung ajaib. Bukan hanya dia, kedua temannya juga menemukan kalung yang sama. Kalung itu berkilau dengan sinar yang terang sekali.

Kalung itu mengantarkan mereka kepada Ratu Magic di Negeri Awan. Ratu Magic yang baik hati kemudian memberikan mantra kepada mereka. Saat kembali ke Bumi, mereka mencoba mantra tersebut. Taraaa ... mereka pun berubah jadi Magical Girls!

Mereka mendapat tugas dari Ratu Magic untuk membantu manusia yang telah kehilangan impiannya. Mau tahu bagaimana pengalaman Magical Girls mengembalikan impian manusia? Yuk, kita baca karya Siti Nabilah Zulinar ini!
Read more

1 Beautiful Snowflake


Sinopsis

Liburan ke rumah kakek dan nenek? Uh, pasti membosankan, deh. Eits, bagaimana kalau rumah kakek dan neneknya di Mittenwald dekat Pegunungan Alpen, seperti Arif dan Nilla? Wow, seru banget! Arif dan Nilla bisa menikmati salju sepuasnya, bahkan sampai terperosok ke dunia bawah es yang aneh dan membingungkan!

Tapi, bagaimana Arif dan Nilla bisa kembali ke dunia mereka, ya? Soalnya, di tempat asing itu dingiiin banget. Brrr ...! Yuk, baca petualangan selengkapnya!
Read more

0 Cheryl Kanza Athallia: "Dari dulu suka membaca, jadi suka menulis!"



Halo, Cheryl! Apakabar?
Hi, PCPK! Baik, nih.


Sedang sibuk apa nih sekarang?
Sedang sibuk buat novel smileAku menyebutnya 55Days-Novel, terinspirasi dari kak Dee yang membuat novel selama 55-60 harian ^^

Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu kok suka menulis?
Hmm, aku enggak tau ya. Mungkin karena dari dulu suka membaca, jadi suka menulis!

Sejak kapan kamu suka menulis?
Kira-kira kelas 3-an SD

Kamu belajar menulis dari mana?
Otodidak. Dari Internet atau membaca cerita.

Kamu pernah merasa bosan dalam menulis? Kalau pernah, cara kamu mengatasinya bagaimana?
Aku tuh suka bosan ya, kalau menulis, terus internet nyala. Jadi, ya kalau mau nulis, harus cabut internet dulu, hehe.

Sampai sekarang kamu sudah menerbitkan berapa buku? Judulnya apa saja?
Sudah terbit 6, tapi insya allah bulan ini mau keluar satu lagi.
Ini dia judulnya:
1. My New Mom (PCPK, 2011)
2. Kejutan Untuk Jane (Edelweiss, 2011)
3. Girls Rule (PCPK, 2011)
4. Alat Musik Misterius (Edelweiss, 2011)
5. SPY (Edelweiss, 2011)
6. Amazing Game (PCPK, 2011)
7. Best Friend Secrets (Bentang Pustaka, 2012)

Kamu suka tema buku yang seperti apa? Kenapa?
Aku suka science fiction. Pengin buat novel kaya gitu, cuma referensi kurang. Jadi buat novel yang action atau petualangan dulu deh! ^^

Penulis favorit kamu?
Dewi Lestari atau Dee-Supernovanya keren abis!

Dalam satu bulan, kamu membaca berapa buku? Dan buku bacaan apa yang paling membuat kamu berkesan?
Hmm, paling 1 atau 2, akhir-akhir ini, aku sudah harus belajar soalnya smileDan yang paling aku suka ya, Perahu Kertas! Aku bukan suka tentang -itu- nya loh, cuma aku suka dengan gaya bahasa kak Dee.

Untuk membuat satu buku, biasanya kamu memakan waktu berapa lama?
Bisa 1 bulan, cuma alhamdulillah. Novel yang sekarang, baru 5 hari udah mau 40, cuma masih tetep lanjut. Rencananya 100-an.

Dari mana kamu mendapatkan ide menulis?
Dari artikel atau video pendek.

Apa yang kamu dapat dari menulis?
Banyak yang nge-add, Banyak yang SKSD, Banyak uang untuk persiapan untuk kuliah nanti, dan hal-hal menarik lainnya!

Kamu kan sekarang sudah menjadi penulis cilik, minta tips-tips menulisnya, dong.
1. Kalau ada ide, langsung tulis aja, perihal dihapus atau engganya, nanti dulu.
2. Diskusiin tulisan yang mau kamu buat sama ortu. Kalau ortumu memberi tips, jangan diacuhin aja. Siapa tahu berguna.
3. Kalau writer block, jangan paksain nulis. Kan bisa nonton tv, minum, atau makan (eh lagi pada puasa yak), atau aktivitas yang dapat merefreshing otak.

Kira-kira, sampai kapan kamu akan menulis?
Sampai .... 21 tahun. Karena aku pengin daftar jadi Pramugari! ^^

Kunjungi juga www.cherylkhanza.com

Read more

0 The Little Detectives


Sinopsis

Katanya, lukisan itu hanya satu-satunya di dunia, tapi kenapa ada lukisan yang sama di rumah Ardi? Siapa yang berbohong, nih? Janny, si kritis yang blak-blakan, pun tak tinggal diam. Bersama teman-temannya, dia menyelidiki misteri lukisan kembar itu. Dan ternyata, kasusnya sangat rumit dan berbelit, bahkan melibatkan kepolisian Amerika! Wow!

Berhasilkah Janny cs mengungkap kasus unik ini? Mengapa tiba-tiba muncul pengemis tua bule di sekitar tempat tinggal mereka? Baca cerita selengkapnya, yuk!

Read more

7 Ghostly Girls


Sinopsis

Sudah berubah jadi hantu, eh, masih takut sama hantu. Lupa, ya, bahwa mereka sekarang sudah tembus pandang? Tadinya, sih, gara-gara Finka dan Syifa mau ngerjain musuh mereka, Trouble Maker Gank. Tapi, mereka malah ikut kena batunya. Mereka pun terpaksa melanjutkan permusuhannya di dunia hantu. Waks!

Apakah Finka berhasil mengalahkan Trouble Maker Gank yang menguasai Ghostly Island? Bagaimana perasaan Finka ketika mengetahui ternyata Syifa mengkhianatinya? Ikuti petualangan Finka yang aneh dan seru ini, yuk!
Read more

0 Roald Dahl

Roald Dahl (lahir di Llandaff, Cardiff, Wales, Inggris, 13 September 1916 – meninggal di Great Missenden, Buckinghamshire, Inggris, 23 November 1990 pada umur 74 tahun) adalah seorang pengarang ternama keturunan Norwegia yang lahir di Wales, Inggris. Selain menulis, Roald Dahl juga merupakan seorang atlet alamiah, pilot ulung Angkatan Udara Inggris (RAF) pada masa PD II, dan fotografer yang berbakat.

Tulisan-tulisannya yang terkenal berbentuk novel dan cerita pendek (untuk anak-anak dan dewasa), ia juga menulis naskah film.

Di antara karyanya yang paling terkenal adalah Charlie dan Pabrik Coklat Ajaib (Charlie and the Chocolate Factory), James and the Giant Peach, Matilda, Para Penyihir (The Witches), Raksasa Besar yang Ramah (The BFG), dan Cium-Cium (Kiss Kiss).

Masa Kecil

Roald Dahl lahir di Llandaff, Cardiff, Wales pada 13 September 1916. Ayahnya, Harald Dahl, adalah pria berkebangsaan Norwegia yang berasal dari Sarpsborg, sebuah kota kecil dekat Oslo, dan Ibunya Sofie Magdalene Dahl nรฉe Hesselberg adalah istri kedua dari Harald Dahl. Istri pertamanya, Marie, meninggal dunia kala melahirkan anak kedua.

Nama Roald diambil dari penjelajah kutub utara Roald Amundsen, seorang pahlawan nasional di Norwegia pada saat itu. Di rumahnya Roald menggunakan bahasa Norwegia untuk bercakap-cakap dengan ayah-ibu dan saudara-saudaranya. Roald memiliki empat saudara kandung, dan dua saudara tiri dari pernikahan pertama ayahnya.

Pada tahun 1918, saat Roald berumur 2 tahun, keluarga Dahl yang bertambah banyak pun pindah ke rumah yang lebih besar di pinggir desa Radyr di sebelah barat Cardiff. Di rumah ini terbentang tanah pertanian, peternakan, hutan, dan pondok-pondok pekerja.

Roald Dahl dan kakak-kakak perempuannya juga di baptis di Gereja untuk para pelaut di Cardiff, ditempat yang sama dimana ayah dan ibunya berdoa secara rutin.

Pada tahun 1920 saat Roald berusia 3 tahun, kakak perempuannya Asti yang berumur 7 tahun meninggal dunia karena usus buntu. Sebulan kemudian ayahnya, Harald Dahl, terkena radang paru-paru, dibebani sedih yang berkepanjangan atas meninggalnya putri kesayangannya. Harald tidak memiliki semangat untuk terus berjuang hidup dan melawan penyakitnya, ia pun meninggal dunia di umur 57 tahun.

Sepeninggalan suami dan anak pertamanya, kini Sofie (atau sering juga dipanggil dengan Mama Radyr- panggilan Roald Dahl untuk ibunya) yang sedang hamil tua harus menghidupi 4 anak dan satu lagi yang masih dikandungnya. Hidup sebagai orang Norwegia, sendirian, di negara asing beserta kelima anaknya sebenarnya merupakan pilihan sulit, namun Sofie menolak untuk kembali ke Norwegia dan tinggal bersama sanak keluarganya disana. Hal ini dikarenakan keinginan almarhum suaminya agar anak-anaknya dapat bersekolah di Inggris, yang terkenal memiliki sekolah-sekolah dengan pendidikan terbaik di dunia pada masa itu.

Pendidikan

Llandaff Cathedral School, 1923-1925

Roald mulai bersekolah di Sekolah Katedral Llandaff (Llandaff Cathedral School). Pada tahun 1923 saat Roald berumur 8 tahun, ia dan keempat temannya dihukum pecut menggunakan tongkat rotan keras, oleh kepala sekolah mereka karena menaruh bangkai tikus kedalam toples permen yang terdapat di toko permen lokal di daerahnya. Pemilik toko permen ini adalah "wanita tua jahat dan menyebalkan" bernama Ny. Pratchett (istri dari pandai besi David Pratchett). Kejadian ini oleh mereka berlima dinamakan "Rencana Tikus Terhebat 1923"

St.Peter, 1925-1929

Setelah insiden pemukulan ini, Roald oleh ibunya dikirim ke sekolah berasrama St. Peter (umur 9-13) di Weston-super-Mare. Orang tuanya ingin agar Roald dididik di sekolah umum di Inggris, dan dengan mempertimbangkan adanya transportasi kapal penghubung yang beroperasi secara teratur di Terusan Bristol, sekolah St Peter menjadi pilihan yang terdekat.

Masa-masa bersekolah di St. Peter adalah masa-masa yang tidak menyenangkan bagi Roald, ia rindu rumahnya dan menulis surat untuk ibunya setiap minggu, namun dalam surat-suratnya ia tidak pernah mengungkapkan kesedihannya. Bahkan ia pernah berpura-pura sakit usus buntu agar dipulangkan ke rumah. Ketika ibunya meninggal dunia, Roald baru tahu bahwa setiap helai suratnya disimpan oleh ibunya dalam sebuah gulungan surat yang diikat dengan pita hijau. Surat-surat yang disimpan inilah yang kemudian menjadi kumpulan dokumentasi Roald Dahl dari mulai masa kecilnya hingga ia menjadi penerbang RAF. Cerita-cerita yang tercantum dalam suratnya ini kemudian diulas dalam buku autobiografinya, Boy: Cerita Masa Kecil (nama Boy, diambil karena pada setiap suratnya untuk ibunya ia selalu menandatanganinya dengan Boy).

Roald dan keluarganya menghabiskan masa liburan-liburan sekolah di musim panas di Norwegia, negara asal orang tuanya. Pada masa itu perjalanan menggunakan kapal memakan waktu empat hari untuk mencapai Oslo, ibu kota Norwegia (saat itu masih bernama Christiania).

Pada saat ia bersekolah di St. Peter, Cadbury, sebuah perusahaan cokelat, kadang-kadang mengirimkan berdus-dus cokelat jenis baru ke sekolahnya sebelum dilepas ke pasaran, untuk diuji coba oleh murid-murid di sana. Roald sangat menikmati hal ini, dalam bukunya Boy: Cerita Masa Kecil, ia ingat komentar kebanggaan yang dituliskannya saat mencoba salah satu jenis cokelat cadbury:

“Terlalu halus untuk dinding langit-langit mulut orang biasa.”

Roald sendiri sering bermimpi menciptakan sejenis cokelat yang akan memenangkan pujian langsung dari Ny. Cadbury. Pengalaman ini menjadi inspirasi di kemudian hari saat ia menulis buku anak-anak ketiganya, Charlie and the Chocolate Factory.

Repton, Midlands

Setelah lulus dari St. Peter Roald melanjutkan ke Repton (umur 13-20), dalam bukunya Boy, ia memilih Repton karena lebih mudah dieja.

Dalam buku autobiografinya Boy: Kisah Masa Kecil di Repton ia mengalami masa-masa sulit dengan para Boazer (senior) seperti pemukulan menggunakan pecut tipis, menghangatkan WC saat musim dingin, dan kerja paksa membersihkan kamar senior.

Roald tumbuh besar dengan fisik lebih tinggi dari rata-rata anak-anak seusianya. Di usia dewasa tingginya mencapai 1.98 m, dan memiliki kemampuan yang baik pada bidang olahraga, ia dijadikan Kapten Fives, sebuah permainan yang dipertandingkan dengan kelompok tanpa kontak fisik, mengandalkan kecepatan mata, dan kelenturan kaki, mirip dengan squash dimana bola kecil dipantulkan di sekitar lapangan. Ia juga menjadi kapten tim Squash, dan tergabung dalam tim sepak bola. Hal ini membantu kepopuleran Roald, karena ia menolak menjadi Boazer, sebuah jabatan penguasa untuk murid senior yang memberi hak untuk memecut dan menghukum murid junior (yang dinamakan Fag), karena itu ia tidak disukai oleh para Boazer lain.

Ia juga tertarik akan fotografi dan memenangkan hadiah dan medali dari perkumpulan fotografi Royal Photographic Society , serta pernah menyelenggarakan pameran foto sendiri saat bersekolah di sana. Karier fotografinya terus dikembangkan saat ia emenangkan medali perunggu dari Komunitas Photographer Mesir (Egyptian Photographic Society) untuk foto Kubah Ctesiphon di Irak yang diambilnya dari atas pesawat Hawker Hart saat ia bergabung dengan RAF.

Selepas sekolah

Setelah menyelesaikan pendidikannya, dan diterima bekerja di Shell, ia memutuskan untuk mendaki melalui Newfoundland dengan "Perkumpulan petualangan Sekolah-sekolah negeri" (sekarang dinamakan Ekspedisi BSES) dan berlangsung selama tiga minggu. Pendakian ini menempanya untuk menjaga diri di lingkungan liar, pelatihan yang ia perlukan untuk bertahan kemudian saat ia bekerja untuk Shell di negeri asing yang jarang penduduknya.

Di bulan Juli 1934 ia bergabung dengan Perusahaan Minyak Shell. Setelah melalui pelatihan selama dua tahun di Inggris, ia dipindahkan ke Dar-es-Salaam, Tanganyika (kini dinamakan Tanzania). Roald bekerja di sana bersama dua orang pegawai Shell lainnya, tinggal di rumah mewah di luar Dar-es-Salaam yang disediakan oleh perusahaan, lengkap dengan koki dan pembantu-pembantu pribadi. Saat melaksanakan pekerjaannya, yaitu memenuhi permintaan minyak bagi para pelanggan, ia bertemu dengan ular mamba hitam (ular dengan bisa paling mematikan di seluruh dunia), harimau, serta satwa-satwa liar lainnya.

Perang Dunia Kedua

Roald Dahl muda
Pada bulan Agustus 1939, pada saat gejala-gejala Perang Dunia II semakin jelas akan terjadi, rencana-rencana dibuat untuk mengumpulkan ratusan warga berkebangsaan Jerman dan menahannya di Dar-es-Salaam. Roald pun dinobatkan menjadi perwira untuk King's African Rifles, dan mengomandani satu peleton askaris. Sebenarnya Roald tidak terlalu senang saat ia harus menahan ratusan warga Jerman, namun ia menuntaskan perintah yang diberikan.

Bergabung dengan RAF

Tidak lama setelahnya, pada bulan November 1939, Roald Dahl bergabung dengan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force, disingkat RAF). Setelah menempuh perjalanan darat menggunakan mobil sejauh 600 mil dari Dar-es-Salaam ke Nairobi, ia diterima untuk menjalani pelatihan pilot dengan 20 pemuda lainnya, 17 di antaranya meninggal kemudian dalam pertempuran-pertempuran udara. Dengan pengalaman selama 7 jam 40 menit di de Havilland Tiger Moth ia terbang solo; Roald menikmati pemandangan liar di Kenya pada setiap penerbangan-penerbangannya. Roald lalu melanjutkan pelatihan terbang tambahan di Iraq pada RAF Habbaniya, yang terletak 50 mil seelah barat Baghdad. Setelah enam bulan pelatihan di atas Hawker Harts, Roald lalu dijadikan Pilot Penerbang.

Ia lalu ditugaskan di Skuardon RAF no. 80 dan menerbangkan Gloster Gladiator, pesawat tempur tua bersayap ganda dan sudah tidak layak terbang yang masih digunakan oleh RAF. Roald terkejut saat menyadari bahwa dia tidak akan mendapatkan pelatihan khusus cara bertempur diudara ataupun cara menerbangkan pesawat Gladiators.

Kecelakaan di Libya

Pada 19 September 1940, Roald diperintahkan untuk menerbangkan pesawat Gladiatornya dari Abu Suier di Mesir, ke Amiriya untuk mengisi bensin, dan melanjutkan ke Fouka di Libya untuk pengisian kedua. Dari sana ia harus terbang 30 mil menuju pangkalan udara Skuardon 80 di sebelah barat Mersa Matruh. Pada lintasan terakhirnya ia tidak dapat menemukan pangkalan udara sementara bahan bakarnya semakin menipis. Hari yang semakin larut memaksanya untuk melakukan pendaratan darurat di gurun pasir. Malangnya, bagian bawah kapalnya menabrak batu dan pesawatnya jatuh. Hal ini mengakibatkan tengorak kepalanya retak, hidungnya patah, dan matanya menjadi buta. Roald berhasil menyeret dirinya keluar dari badan pesawat yang terbakar dan pingsan. Kecelakaan ini menjadi tulisannya yang pertama yang diterbitkan kemudian pada tahun 1942. Dalam penyelidikan selanjutnya yang dilakukan oleh RAF terungkap bahwa lokasi yang dituju oleh Roald sama sekali salah, dan ia telah dikirim berdasarkan kekeliruan ke daerah tak bertuan di antara wilayah pasukan sekutu dan wilayah pasukan Italia.

Roald diselamatkan dan dibawa ke Pos P3K yang berada di Mersa Matruh dimana ia kemudian menjadi sadar, namun penglihatannya tidak kembali, ia pun dibawa ke Rumah Sakit Angkatan Laut Kerajaan (Royal Navy Hospital) yang terletak di Alexandria menggunakan kereta api. Selama dirawat disana ia jatuh cinta kepada perawatnya, Mary Welland. Karena tidak bisa melihat, Roald jatuh cinta pada suaranya, namun begitu penglihatannya kembali—ia lalu memutuskan bahwa ia tidak akan memperpanjang cintanya.

Menurut dokter-dokter yang memeriksanya, ia tidak mungkin bisa terbang lagi. Namun di bulan Februari 1941, lima bulan setelah ia pertama kali menginjakkan kaki di rumah sakit, ia dianggap sehat dan sekeluarnya dari rumah sakit, ia langsung mengikuti ujian layak terbang untuk kembali bertugas dan lulus.

Pada saat ini Skuardon 80 telah dipindahkan ke Yunani untuk berkampanye dan berbasis di Elevis, sebuah daerah dekat Athena. Skuardon ini pun telah dilengkapi dengan pesawat Hawker Hurricane.

Pada April 1941 setelah mencoba pesawat Hawker Hurricane dan hanya mengantongi tujuh jam pengalaman terbang mengendarai pesawat tersebut, Roald menerbangkannya melintasi laut mediterania. Pada saat itu RAF hanya memiliki 18 pesawat tempur: 14 pesawat Hurricane dan empat pesawat pengebom ringan Bristol Blenheim.

Pertempuran Udara

Roald mengalami pertempuran udara pertamanya pada 15 April saat ia sedang terbang sendiri di atas kota Chalcis. Ia menginterupsi enam pesawat Junkers Ju-88 yang sedang menjatuhkan bom-bom dan menghancurkan kapal-kapal laut. Roald berhasil menembak jatuh satu. Pada 16 April di pertempuran udara lainnya, ia menembak jatuh satu lagi pesawat Ju-88.

Pada 20 April Roald turut ambil bagian pada "Pertempuran Athena", dan bersanding bersama pilot-pilot terbaik (Ace) dari Negara Persemakmuran Inggris pada PD II, di antaranya adalah Pat Pattle dan David Coke, teman baiknya. Pada pertempuran tersebut lima pesawat hurricane ditembak jatuh dan empat pilotnya meninggal dunia, termasuk Pat Pattle.

Karena pasukan Jerman semakin jauh menguasai Athena, Roald di evakuasi ke Mesir. Skuardonnya dikumpulkan kembali di Haifa. Dari sini, Dahl menjalankan misi terbang setiap hari selama empat minggu tanpa henti. Selama mengemban misi ini Roald menembak jatuh Potez 63 pada 8 Juni dan Ju-88 pada 15 Juni, namun ia mulai mendapatkan serangan sakit kepala yang menyebabkannya tak sadarkan diri. Ia dipulangkan kerumahnya di Inggris karena ketidak-mampuannya melanjutkan tugas. Pada saat dipulangkan pangkatnya adalah Kapten Udara.

Wakil Atase Udara di Amerika

Roald mulai menulis pada tahun 1942 setelah ia dipindah-tugaskan ke Washington sebagai Wakil Atase Udara. Tulisannya yang pertama pada 1 Agustus 1942 terbit pada edisi Koran Sabtu Sore (Saturday Evening Post) berjudul "Ditembak Jatuh Diatas Libya", tulisan itu bercerita tentang kecelakaannya saat pesawat Gloster Gladiatornya jatuh. Artikel ini berawal ketika C.S. Forester, penulis Amerika, meminta Roald untuk menulis beberapa lelucon penerbangan dari RAF sehingga ia bisa mengembangkannya menjadi cerita. Namun saat Roald menyerahkan naskah artikelnya, Forester memutuskan untuk menerbitkan tulisan tersebut persis seperti aslinya. Judul artikel itu pada awalnya adalah "Gampang Sekali" - namun judul tersebut diganti dengan tujuan memberikan efek dramatis, padahal faktanya Roald tidak pernah "ditembak" saat jatuh di Libya.

Pada saat perang, Forester bekerja untuk Jasa Informasi Inggris (British Information Service) dan menulis propaganda "menyekutukan", yang ditulis untuk konsumsi rakyat Amerika. Pekerjaan yang disandangnya mengenalkan Roald akan aktivitas mata-mata dan pada William Stephenson, seorang mata-mata yang lihai asal Kanada yang dikenal dengan nama samaran "Intrepid".

Selama masa perang, Roald memasok informasi intelejen dari Washington kepada Stephenson dan organisasinya, yang saat itu dikenal sebagai Badan Koordinasi Keamanan Inggris (British Security Coordination). Lalu Roald dikirim kembali ke Inggris, karena diduga melakukan prilaku yang tidak pantas oleh pegawai Kedutaan Inggris: "Aku di tendang oleh 'orang-orang atas'," katanya. Stephenson lalu mengirimnya kembali ke Washington - sekaligus menaikkan jabatannya. Setelah perang Roald menulis sebagian sejarah dari organisasi rahasia tersebut, Stephenson dan Roald tetap berteman baik dalam tahun-tahun selanjutnya setelah perang.

Dahl menyudahi kariernya dalam perang sebagai Letnan Kolonel AU. Prestasi dan kemenagannya dalam lima pertempuran udara telah dikonfirmasi oleh riset pasca perang dan referensi silang dalam Axis records.

Kehidupan pribadi

Pernikahan

Pada tahun 1953 Roald menikah dengan Patricial Neal, seorang artis Amerika pemenang Academy Award. Mereka memiliki lima anak: Olivia, Tessa, Theo, Ophelia, dan Lucy.

Pada tahun 1965 saat mengandung anak kelima mereka, Lucy, Patricia Neal menderita cerebral aneurysm, tiga pembuluh darahnya pecah. Roald bertanggung jawab penuh dan merawatnya saat Patricia menempuh rehabilitasi dan belajar untuk berbicara dan berjalan lagi.

Pada 1983 Roald dan Patricia akhirnya bercerai menyusul banyaknya ketidak-cocokan dalam rumah tangga mereka. Roald kemudian menikahi Felicity ("Liccy") d'Areu Crosland (kelahiran 12 Desember 1938), yang juga dikenal sebagai sahabat Patricia Neal. Pernikahan mereka bertahan hingga akhir hayatnya.

Anak

• Olivia, anaknya yang tertua, meninggal dunia pada umur 7 tahun karena cacar.
• Theo Dahl pada umur 4 bulan terluka parah ketika kereta bayinya tertabrak taksi di New York City. Untuk beberapa lama ia menderita hydrocephalus. Roald Dahl pun terlibat dalam usaha penyembuhannya dan mengembangkan sebuah alat yang kemudian dinamakan "Wade-Dahl-Till" (atau WDT), alat ini berupa katup yang membantu kondisi penderita.
• Ophelia Dahl adalah direktur dan salah satu pendiri Partners in Health (Rekan dalam Kesehatan) bersama dengan dokter Paul Farmer, sebuah organisasi nirlaba yang mendedikasikan diri untuk menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang berdiam di wilayah-wilayah termiskin di dunia.
• Tessa Dahl memiliki anak perempuan, Sophie, yang kemudian menjadi inspirasi untuk karakter utama dalam buku cerita kakeknya, Roald Dahl, BFG. Sophie Dahl sendiri kemudian menjadi seorang model dan pengarang.
• Lucy Dahl berprofesi sebagai penulis naskah di Los Angeles.

Sikap terhadap Israel

Antisemitisme

Karya Roald Dahl banyak diboikot di Israel dan berbagai tempat lainnya karena sikapnya yang dianggap antisemitisme.

Pada musim panas pada tahun 1983, Roald menulis untuk Literary Review (Ulasan Sastra) tentang buku yang berjudul God Cried (Tuhan Menangis) oleh penulis Newsweek, Tony Clifton, buku yang menggambarkan sebuah polemik pendudukan Libanon oleh Israel.

Ulasan Roald menyatakan bahwa penyerangan Israel kepada Libanon di bulan Juni 1982 adalah awal dari "saat kita mulai membenci Israel," dan buku tersebut akan membuat pembacanya menjadi "Anti-Israel Garis Keras". Menurut penulis biografi Jeremy Treglown, sebenarnya dalam tulisan aslinya Roald menulis, "saat kita mulai membenci Yahudi" - namun editornya, Gillian Greenwood dari Literary Review mengubah ungkapan "kaum yahudi" dan "orang-orang yahudi" menjadi "Israel" dan "orang-orang Israel".
Hal ini lalu dibahas di media dan Roald kemudian menyatakan bahwa, "Saya bukan antisemitisme. Saya anti Israel."

Roald beranggapan bahwa sikapnya inilah yang membuatnya gagal mendapatkan gelar kebangsawanan (knighted), padahal hal ini menjadi ambisinya. Kemudian menurut arsip pemerintah yang bocor pada tahun 2003, Roald tercatat menolak penghargaan OBE pada tahun 1986, konon disinyalir penolakannya ini karenan ia kecewa atas gagalnya ia mendapatkan gelar kebangsawanan tersebut.

Menurut penulis-penulis biografinya, saat ditanya oleh wartawan tentang sikapnya yang tertuang dalam ulasan buku di Review, ia menyatakan bahwa, " Ada sikap bermusuhan yang ditujukan pada karakter yang dimiliki orang-orang yahudi... Maksudku selalu ada alasan mengapa perkumpulan-perkumpulan anti-apa saja muncul di muka bumi; bahkan orang brengsek seperti Hitler pun bukannya tanpa alasan dalam sikapnya terhadap Yahudi."

Walaupun begitu, menurut Treglown, penulis biografinya, Roald bukannya tidak punya teman orang yahudi, ia tetap berteman dengan sedikit yahudi yang ia suka.

Pada tahun-tahun selanjutnya, Roald kadang-kadang mencoba untuk meredakan beberapa tuduhan-tuduhan tentang sikap antisemitismenya dengan tulisan-tulisan simpatik tentang pengungsi Yahudi-Jerman dalam bukunya Boy and Going Solo (Perjalanan Solo), dan tulisannya menyatakan bahwa ia menentang ketidak-adilan itu sendiri, bukan Yahudinya. Ia tidak pernah mundur sedikit pun dari pendiriannya menentang Israel.

Walaupun begitu, tidak berapa lama menjelang kematiannya, pada 1990 pendapatnya yang berbunyi," Saya jelas-jelas anti-Israel dan kemudian saya menjadi antisemitisme", dimuat di The Independent, sebuah surat kabar di Inggris.

Kematian dan Kenangan

Roald Dahl meninggal pada 23 November 1990 pada umur 74 tahun. Kematiannya disebabkan myelodysplastic anaemia, suatu kelainan darah yang langka. Ia meninggal di rumahnya, Rumah Gipsi, di Great Missenden, Buckinghashire, Inggris, dan dimakamkan di pemakaman gereja parish di St Peter dan St Paul. Menurut cucunya, keluarganya memakamannya dengan upacara "pemakaman Viking". Ia dimakamkan bersama dengan stik bilyardnya, beberapa minuman burgundy yang terbaik, beberapa batang cokelat, pensil HB, dan gergaji listrik. Untuk mengenangnya, Galeri Anak-Anak Roald Dahl dibuka di Museum Buckinghamshire County di dekat Aylesbury.

Pada tahun 2002, salah satu situs terkenal modern di Cardiff, di beri nama ulang menjadi "Roald Dahl Plass". "Plass" disini berarti Plaza dalam bahasa Norwegia, sebuah pengakuan darah Norwegia pada mendiang penulis terkenal ini. Masyarakat juga telah meminta untuk didirikannya sebuah patung permanen Roald Dahl di kota ini.

Semenjak kematiannya, komitmen kemanusiaan yang dimulai oleh Roald Dahl dalam bidang neurologi, hematologi dan sastra dilanjutkan oleh jandanya melalui Yayasan Roald Dahl. Pada bulan Juni 2005, Museum dan Pusat Cerita Roald Dahl dibuka di Great Messenden untuk merayakan dan melestarikan karya-karya Roald Dahl di bidang sastra.

Karya-karyanya

Karier menulis Roald Dahl dimulai saat ia terinspirasi oleh pertemuannya dengan C.S. Forester. Artikel pertama Roald, yaitu "Tertembak Jatuh di atas Libya" (kini diterbitkan dalam judul "Gampang Sekali"), sebuah cerita tentang pengalamannya saat perang dan dibeli oleh Saturday Evening Post (Harian Sabtu Sore) dengan imbalan US$ 900, telah menerbitkan namanya sebagai seorang penulis. Judul dari artikel ini terinspirasi dari artikel sensasional yang tentang kecelakaan pesawatnya yang mengakibatkan ia buta untuk sementara, artikel itu menyebutkan bahwa ia ditembak jatuh di atas Libya, padahal sebenarnya ia hanya terpaksa mendarat karena kehabisan bensin dikarenakan rute penugasan terbang yang salah.

(Sumber)
Read more

2 Roadshow PCPK Menulis itu Keren Tahun 2012

Dua hari ini (26 & 27 Agustus 2012) Penulis Cilik Punya Karya melakukan Roadshow Menulis itu Keren di Pesantren Darul Maarif (Jakarta Selatan) dan Pesantren Darul Muttaqin (Parung-Bogor). Pembicaranya adalah Bang Boim Lebon. Acaranya tuh seru banget! Bang Boim yang terkenal lucu dan gokil itu mampu membuat para peserta yang hadir tertawa terbahak-bahak.

“Dulu saya ini Playboy,” ujar Bang Boim, “Saya naksir lima cewek, yang nolak saya sepuluh!” Semua peserta tertawa lepas. Acara berjalan begitu seru dan menyenangkan.

Selain melucu, tujuan utama Bang Boim di acara itu adalah berbagi semangat menulis kepada semua peserta. Kata Bang Boim, “Dengan menulis, kita bisa meluapkan semua perasaan kita. Kita jadi tidak stres. Semuanya kita tuangkan ke tulisan. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan penghasilan dari menulis.”

Bang Boim juga sempat berkata, “Harga buku saya 30,000, royalti saya 10%. Jadi saya mendapat 3000 rupiah dari satu buku yang terjual. Buku saya dicetak 5000 eksemplar. Berarti 3000 x 5000 berapa? Ya, dari satu buku saya mendapat 15 Juta. Itu baru dari satu buku, dan jumlah buku saya berjumlah ratusan.” Wow. Para peserta berdecak kagum. Ternyata dari menulis kita masih bisa mendapatkan keuntungan materi. Apalagi kalau buku kita bestseller, wuih, jadi tambah semangat menulis, deh! Tapi, kalau bisa kita jangan melulu berpikir soal uang dan materi ya, tanpa itu pun kita masih bisa tetap mendapatkan kebahagiaan dari menulis. Iya, kan? Yang penting kita harus tetap menulis!

Di bawah ini ada beberapa foto yang diambil dari Pesantren Darul Muttaqin. Silakan dilihat-lihat ^_^


















Read more

2 Maryam Muthmainnah: "Yang punya andil besar aku menjadi penulis itu adalah ibuku."

Sebelumnya PCPK sudah mewawancarai penulis cilik Billy Briliant dan Nurul Pertiwi, sekarang PCPK akan memawancarai penulis cilik yang sudah beranjak remaja: Maryam Muthmainnah. Sebagaimana penulis-penulis hebat PCPK yang lain, Maryam ini memiliki potensi besar untuk menjadi penulis hebat. Karya-karyanya selalu memiliki muatan ilmu pengetahuan. Selalu ada yang bisa kita petik dari setiap tulisannya. Novelnya yang berjudul Math Garden menjadi nominasi IBF Award 2011. Oh iya, kalau kamu belum pernah membaca Math Garden, wah, sayang sekali. Di novel itu Maryam akan membuat pembaca menyukai matematika! Pelajaran yang sering membuat pening kepala itu oleh Maryam dibuat menjadi begitu menarik. Dikemas dengan kisah petualangan yang mantap, Math Garden memang layak dibaca oleh setiap orang. Oke, sekarang mari kita saksikan bincang-bincang santai dengan penulis kelahiran Bandung ini. Read it on!

Halo, Maryam! Apakabar?
Halo, Kak. Kabarku baik

Sedang sibuk apa nih sekarang?
Sekarang lagi sibuk masuk SMA. Kan aku sebelumnya sekolah di swasta dari TK sampai SMP. Nah, sekarang di SMA Negeri harus banyak menyesuaikan diri juga.

Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu kok suka menulis?
Menurut aku, menulis itu berekspresi. Aku bisa sebebas-bebasnya menuliskan ide dan pikiran aku. Asal yang nggak menyinggung SARA aja, hehe.

Sejak kapan kamu suka menulis?
Aku suka menulis sejak aku kelas 1 atau kelas 2 SD. Kan waktu itu setiap pagi kelasku itu disuruh menulis. Menulis apa saja. Boleh menyalin dari buku, atau buat sendiri. Awalnya juga nyalin aja dari buku. Tapi kan, aku penasaran juga buat nulis sendiri. Akhirnya dari situ aku suka nulis. Walaupun kalau tulisannya aku baca lagi sekarang, aku masih suka ketawa sendiri. Hihihi..

Kamu belajar menulis dari mana?
Aku belajar menulis dari banyak tempat, banyak orang. Kadang-kadang aku juga belajar sendiri dengan membaca karangan orang lain. Tapi menurutku, yang punya andil besar aku menjadi penulis itu adalah ibuku.

Kamu pernah merasa bosan dalam menulis? Kalau pernah, cara kamu mengatasinya bagaimana?
Bosan sih, selalu ada ya. Apalagi kalau udah stuck nggak tau mau nulis apa. Biasanya, kalau udah gitu, aku mencari pekerjaan lain yang bikin otak jadi fresh. Misalnya baca buku, nonton TV, atau jalan-jalan.

Sampai sekarang kamu sudah menerbitkan berapa buku? Judulnya apa saja?
Bukuku yang sudah diterbitkan baru ada tiga judul. Piza Pizi Veronica (2009), Math Garden (2010), dan Girls Rule (2011). Alhamdulillah, Math Garden jadi nominasi IBF award untuk kategori fiksi anak dan Girls Rule menjadi nominasi Goodreads awards. Buku lainnya masih coming soon. Insya Allah mungkin keluar tahun ini.

Kamu suka tema buku yang seperti apa? Kenapa?
Aku suka tema fantasi, karena dengan tema fantasi, aku bisa berekspresi dan berimajinasi sebebas-bebasnya. Selain itu, aku juga suka tema realis karena dekat dengan kehidupan.

Penulis favorit kamu?
Penulis favorit aku banyak, Roald Dahl, Enid Blyton, Eva Ibbotson, Asma Nadia, Tasaro GK, dan masih banyak lagi.

Dalam satu bulan, kamu membaca berapa buku? Dan buku bacaan apa yang paling membuat kamu berkesan?
Kalau dulu, waktu aku masih SD buku yang bisa aku baca sebulan bisa sampai 30 buku. Tapi sekarang dibagi dengan kesibukan yang makin padat, hehe, mungkin cuma 5 atau 6 buku aja. Malah bisa nggak sama sekali, seperti waktu UN kemarin, yang banyak dibaca, ya, buku pelajaran.

Untuk membuat satu buku, biasanya kamu memakan waktu berapa lama?
Satu buku bisa sampai 3 bulan. Kalau menurut aku sih, lebih baik lama asal selamat, hihihi. Biasanya aku ingin bukunya bukan hanya menghibur tapi bermanfaat. Jadi aku ingin mencari bahan-bahan yang bisa disambungin sama bukuku. Jadi isinya nggak fiksi aja.

Dari mana kamu mendapatkan ide menulis?
Ide bisa didapat di mana-mana. Dari buku, dari TV (tapi bukan ngejiplak, ya) dari sebuah tempat, dari pemandangan, dan lain-lain. Bahkan pagar rumah tetangga pun aku jadikan ide, hahahaha.

Apa yang kamu dapat dari menulis?
Banyak, aku dapat teman baru, aku dapat lebih banyak ilmu, jadi punya uang saku sendiri, hehehe.

Kamu kan sekarang sudah menjadi penulis cilik, minta tips-tips menulisnya, dong.
Tips menulis dari aku, kalau ingin jadi penulis harus suka membaca. Karena nggak mungkin kan, penulis buku tapi nggak cinta sama buku? Terus, harus banyak latihan. Karena kesempurnaan itu didapat dari latihan terus-menerus *ciee. Kalau kata aku sih itu aja untuk awalnya.

Kira-kira, sampai kapan kamu akan menulis?
Aku ingin terus menulis, walaupun tulisan aku tidak akan dibaca oleh orang lain. Kan menulis itu adalah sifat dasarnya manusia, haha. Intinya aku akan terus menulis sampai aku masih memiliki kemampuan untuk berbagi. Berbagi ilmu, berbagi pikiran, dan berbagi keceriaan.
Read more

4 Hans Christian Andersen

Siapa yang suka dongeng, tunjuk tangan! Wah-wah-wah … ternyata PCPK’ers banyak yang menyukai dongeng, ya. Bagus kalau begitu. Terus, siapa yang pernah mendengar dongeng Putri Salju, Putri Duyung, dan Itik Buruk Rupa? Hebat! Ternyata kalian semua pernah mendengar dongeng-dongeng legendaris itu. Nah, sekarang coba jawab pertanyaan ini: apakah kalian tahu siapa pengarang dongeng-dongeng tersebut? Hayo … yang tahu tunjuk tangan lagi. Wah, ternyata cuma sedikit, ya, yang tunjuk tangan. Oke, jawabannya adalah: H.C. Andersen.

Siapakah H.C. Andersen itu? Bagi Teman-Teman yang belum mengetahui H.C. Andersen, di sini PCPK akan menulis biografi tentang pendongeng legendaris berkebangsaan Denmark itu.

Oke, mari kita mulai!

Masa Kecil H.C. Andersen
Hans Christian Andersen atau lebih dikenal sebagai H.C. Andersen adalah seorang pendongeng ulung. Ia lahir di Odense, Denmark bagian selatan, pada 2 April 1805, tepatnya di kawasan kumuh kota Odense. Ayahnya bernama Hans Andersen, seorang pembuat sepatu yang miskin, buta huruf, tapi selalu merasa dirinya masih keturunan bangsawan. Ibunya bernama Anne Marie Andersdatter, bekerja sebagai buruh cuci.

Walau besar dalam keluarga miskin dan tidak pernah sekolah, sejak kecil H.C. Andersen sudah mengenal berbagai cerita dongeng dan cerita rakyat dari ibunya. Ia juga sering diajak menonton pertunjukan sandiwara oleh ayahnya yang seorang pencinta sastra. Pengalaman dari orangtua itulah yang membuat H.C. Andersen tertarik dengan cerita dan sandiwara, termasuk karya William Shakespeare.

Masa-Masa Menyedihkan
Ketika H.C. Andersen berusia 11 tahun, ayahnya meninggal dunia. Di usia yang sangat muda itu ia sudah menjadi anak yatim. Menyedihkan sekali, bukan? Akhirnya H.C. Andersen bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia pernah bekerja di pabrik rokok dan pernah bekerja sebagai penenun.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1819, ia pindah ke Kopenhagen, ibu kota Denmark. Di sana ia ingin menjadi seorang aktor, penyanyi, atau penari. Awalnya, Andersen sempat bergabung dengan Royal Theater, tetapi ketika suaranya berubah karena masa pubertas, ia terpaksa meninggalkan panggung sandiwara. Kemudian ia memilih untuk menjadi seorang penulis. Ia pernah mencoba menulis beberapa naskah sandiwara, tapi sayang, semua karyanya ditolak di mana-mana. Tiga tahun berada di kota Kopenhagen, kehidupan H.C. Andersen terlihat begitu menyedihkan.

Kehidupan H.C. Andersen Mulai Membaik
Pada masa-masa menyedihkan itulah H.C. Andersen bertemu dengan Raja Denmark, Frederik VI. Raja Frederik tertarik dengan penampilan H.C. Andersen muda. Raja Frederik kemudian mengirimkan Andersen untuk bersekolah. Berkat kebaikan Raja, Andersen berkesempatan mengenyam pendidikan bahasa di Slagelse dan Elsinore hingga 1927. Sebelum sekolah, ia sempat menerbitkan jilid pertama karyanya yang berjudul The Gost at Palnatoke's Grave (1822).

Di bangku sekolah, Andersen termasuk siswa tertinggal, sebab dia menjalaninya dengan setengah hati. Dia merasa sangat tidak nyaman berada di tengah para siswa yang berusia enam tahun lebih muda dari dirinya. Ya, di kelas itu ia adalah yang paling tua umurnya. Kepala sekolahnya yang bernama Meilsing, yang rumahnya sempat ditempati Andersen, menyebut karakter H.C. Andersen sangat sensitf.

Setamat dari sekolah bahasa, Andersen melanjutkan studi ke Universitas Kopenhagen. Salah seorang direktur Royal Theater, Jonas Collin, membiayai pendidikan H.C. Andersen sampai tamat. Sambil kuliah, pada 1828, H.C. Andersen menulis kisah perjalanan yang berjudul Fodreise fra Holmens Kanal Til Ostpynten af Amager (Berjalan kaki dari Kanal Holmen ke Titik Timur Amager).

Kisah ini mendapat sambutan yang luar biasa. H.C. Andersen menggarap ceritanya dengan meminjam gaya penulisan E.T.A Hoffmann, seorang pengarang roman asal Jerman. Sejak itu, puisinya yang berjudul The Dying Child diterbitkan oleh sebuah jurnal sastra di Kopenhagen. Pada tahun 1829, Royal Theater juga mementaskan drama musik karya H.C. Andersen.

Keliling Dunia
H.C. Andersen pergi berkelana ke luar negeri. Hingga 1833, Raja Frederick VI bersedia membiayai seluruh perjalanan Andersen ke Prancis, Swedia, Spanyol, Portugal, Italia, bahkan hingga Timur Tengah.

Berbagai kunjungan itu melahirkan setumpuk kisah perjalanan. Ketika berkunjung ke Paris, Andersen bertemu Victor Hugo, Alexandre Dumas, Heinrich Heine, dan Balzac. Di tengah perjalanan panjang ini pula, ia sempat menyelesaikan penulisan Agnette and the Merman.

Pada awal 1835, novel pertama Andersen terbit dan meraih sukses besar. Sebagai novelis, ia membuat terobosan lewat The Imrpvisator, karya yang ditulisnya pada tahun yang sama. Cerita yang mengambil seting Italia ini mencerminkan kisah hidupnya sendiri; melukiskan upaya seorang bocah miskin masuk ke dalam lingkungan pergaulan masyarakat. Malah sampai akhir hayatnya, buku The Improvisator inilah yang paling banyak dibaca orang banyak dibandingkan dengan karya-karya Andersen yang lain. Sejak buku ini terbit, masa-masa sulit Andersen mulai berubah.

Karya-Karya H.C. Andersen
Untuk menggenapkan karyanya, Andersen melahirkan karya-karya novel baru pada 1836 dan 1837. Disamping puluhan cerita dongeng yang terbit dalam kurun waktu tersebut, novel kedua, O.T dan Only A Fiddler.

Walaupun novel-novelnya mendapat sambutan besar, nama H.C. Andersen di dunia justru menjulang sebagai penulis dongeng anak-anak. Pada 1835, ia meluncurkan cerita anak-anak Tales for Children dalam bentuk buku saku berharga murah. Lalu kumpulan cerita berjudul Fairy Tales and Story ditulisnya dalam kurun 1836-1872.

Serial anak-anaknya yang kebanyakan terbit pada hari Natal itu tidak hanya kisah-kisah yang dibuat olehnya. Andersen juga menulis kembali dongeng anak-anak yang selalu didengarnya semasa kecil. Sepanjang hayatnya ia menulis 156 cerita. Dari jumlah itu, 12 dongeng ditulisnya berdasarkan cerita rakyat Denmark. Selebihnya merupakan cerita khayali yang lahir dari buah pikirannya sendiri.

Dua dari cerita dongengnya yang amat kesohor, The Little Mermaid (Putri Duyung) dan The Emperor's New Clothes, diterbitkan dalam kumpulan cerita pada 1837. Tujuh dongengnya yang lain: Little Ugly Duckling (Itik Buruk Rupa), The Tinderbox, Little Claus and Big Claus, Princess and the Pea, The Snow Queen (Putri Salju), The Nightingale, dan The Steadfast Tin Soldier, juga dikenal di berbagai belahan dunia sebagai cerita yang kerap didongengkan pada anak-anak. Ia memasukkan pesan dan nilai moral dalam ceritanya tanpa menggurui sama sekali.

Bisa dilihat dari kisah dongeng The Emperor's new Clothes. Pesan bahwa keserakahan itu tidak baik disampaikan H.C. Andersen lewat parodi raja lalim yang cukup menggelikan itu. Salah satu ciri lain yang menonjol dalam cerita dongeng H.C. Andersen adalah hadirnya kaum miskin dan mereka yang tidak beruntung dalam hidup.

Pengaruh Karya H.C. Andersen di Dunia Kisah Anak-Anak
Cerita-cerita dongeng H.C. Andersen memang berisi pesan-pesan moral universal. Maka tidak mengherankan bila karya-karyanya itu kemudian diterjemahkan ke dalam 147 bahasa di dunia. Buah tangannya pun bukan hanya sebatas "pelajaran" untuk anak-anak, melainkan dibaca oleh orang dewasa di seluruh dunia.

Bukan itu saja, H.C. Andersen disebut-sebut memberikan banyak pengaruh kepada para penulis cerita lainnya di Eropa. Sebut saja Charles Dickens, William Thackeray, Oscar Wilde, dan C.S Lewis.

Dalam kurun 1840 hingga 1857, Andersen kembali berkunjung ke sejumlah negara Eropa, Turki, dan Afrika dan menuliskan kesan dalam buku-buku yang menuliskan kisah perjalanannya. Pada tahun 1855, Andersen menulis ulang memoarnya yang berjudul The Fairy Tale of My Life. Kisah hidup edisi ulang itulah yang hingga kini dinilai sebagai buku standar riwayat pendongeng legendaris ini.

Akhir Hidup H.C. Andersen
Setelah berkelana lagi di Paris, Andersen jatuh sakit pada musim semi 1872. beberapa penyakit menggerogoti lelaki kurus ini. Selama tiga tahun terbaring tanpa daya di Rolighed dekat Kopenhagen, pengarang legendaris ini wafat pada 4 Agustus 1875, ketika ia berusia 70 tahun. Ia dimakamkan dipemakaman khusus Kopenhagen. Sepanjang hayatnya, H.C Andersen tidak pernah menikah.

Selesai!

Bagaimana, PCPK’ers? Kisah hidup H.C. Andersen sangat menginspirasi, ya. Semoga setelah membaca biografi H.C. Andersen, semangat kalian dalam menulis kembali menyala. Terima kasih karena telah membaca tulisan ini sampai selesai. Nantikan biografi penulis klasik lainnya di blog PCPK kesayangan kalian ini. Selamat menulis! (PCPK/dari beragam sumber)

Sumber bacaan:

Read more

 
Powered by Blogger